Misteri Relief Karmawibhangga dan Stupa Induk Borobudur

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Reliëf_O_5_op_de_verborgen_voet_van_de_Borobudur_TMnr_10015743

Kalau saja Raffles tidak berminat pada sejarah dan kebudayaan Indonesia, mungkin Candi Borobudur masih diliputi kegelapan. Raffles adalah Gubernur Jendral Inggris di Hindia Belanda (1811-1815). Dia berkedudukan di Jakarta tapi banyak berkeliling Pulau Jawa. Sebagai ilmuwan, Raffles menulis buku History of Java.

Pada 1814 ketika sedang berkunjung ke Semarang, dia mendapat laporan adanya sebuah candi di Desa Bumisegoro dekat Magelang. Karena berapresiasi, dia segera menugaskan Cornelius untuk melakukan penyelidikan. Di sana Cornelius menjumpai adanya sebuah bukit yang ditumbuhi pohon-pohon rindang dan semak-semak belukar. Di antara tumbuh-tumbuhan itu tersembul sejumlah batu berukir.

Dibantu sekitar 200 penduduk desa, Cornelius menebangi pohon, membakari semak belukar, dan menyingkirkan puing-puing bangunan. Hampir dua bulan lamanya mereka bekerja. Namun wujud

Read more of this post

Situs Arkeologi Buni “Dahulu dan Sekarang”

Buni, terletak di Kampung Buni Pasar Emas, Desa Buni Bakti , Kecamatan Babelan. Secara geografis terletak pada UTM : X 725.518.19 Y 9.324.459.91 34 dpl / sekitar Latitude :  -6.089307 Longitude  : 107.022243   dan ketinggian 23m di atas permukaan laut.

Situs Buni merupakan kawasan penemuan benda-benda arkeologi, hasil penelitian di wilayah Kampung Buni Pasar Mas dan Buni Pendayakan menunjukkan adanya temuan berupa tembikar terdiri dari macam-macam bentuk dan ukuran berupa periuk, mangkuk berkaki, kendi dan tempayan. Selain itu ditemukan adanya beliung persegi, artefak logam perunggu dan besi, gelang dari batu dan kaca, perhiasan emas, manik-manik, bandul jala dari terakota dan tulang belulang manusia. Agaknya masyarakat Buni telah mengenal tradisi penguburan langsung tanpa wadah dengan tembikar sebagai bekal kuburnya, namun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa tembikar-tembikar tersebut dimanfaatkan pula untuk keperluan sehari-hari. Selain itu di Kampung Buni juga ditemukan Read more of this post

Seni Batu Kuno Soal Reproduksi Ditemukan di Papua Barat

Seni Batu Papua

KOMPAS.com Selasa, 19 Februari 2013 – Gabungan dari penyelam dan arkeolog internasional menemukan gambar cadas terbaru di Misool, Raja Ampat, Papua Barat. Gambar cadas ini pertama kali ditemukan oleh para penyelam yang kemudian memberi informasi pada Jean-Michel Chazine, peneliti dari French National Centre for Scientific Research (CNRS-France) tiga tahun silam.

Penemuan ini baru diumumkan oleh Chazine dalam Kongres Arkeologi Dunia di Yordania pada 13 hingga 18 Januari 2013 lalu. “Itu (Papua Barat) merupakan surga kecil bagi dunia arkeologi. Gambar yang ada sangatlah berhias dan indah,” kata Chazine dalam presentasinya di kongres (18/1).

Gambar cadas ini ditemukan di tebing yang sudah mulai tenggelam. Terdapat tujuh situs baru, dengan demikian total ada 13 situs di lokasi tersebut. Situs-situs terbaru ini menampilkan hasil goresan tangan yang muncul di hampir di semua lokasi yang dicat.

Konten dari gambar cadas terbaru ini mayoritas berisi tentang fauna laut seperti tuna, hiu, lumba-lumba, dan beberapa ikan besar lainnya. Terdapat juga kombinasi garis dan warna yang menyimbolkan kesuburan atau kehamilan.

“Menariknya, banyak hasil karya ini yang dicat dengan warna merah koral yang indah. Saya yakin itu menjadi petunjuk bagi tempat seremoni yang didedikasikan untuk proses kesuburan dan reproduksi,” kata Chazine.

Dalam buku Rock Art of West Papua karya Karina Arifin dan Phillipe Delanghe, catatan tertua mengenai gambar cadas di Papua Barat berisi mengenai tebing di Teluk Speelman, selatan Fakfak. Pada tahun 1678, saudagar Johannes Keyts menuliskan dalam buku hariannya ketika menemukan tengkorak manusia, tameng, dan artefak lain saat melewati tebing tersebut.

Tebing itu dipenuhi dengan cat merah dan Keyts pun sempat mensketsa ulang gambar-gambar cadas yang ada. Buku harian Keyts sempat diterbitkan oleh Francois Valentijn pada 1726 dan dicetak ulang lagi pada tahun 1944. Sayangnya hingga sekarang tebing tersebut belum ditemukan lagi. (Zika Zakiya/National Geographic Indonesia)

Trowulan dalam Kepungan Pragmatisme “Antara Urusan Perut dan Cagar Budaya”

Batu bata kuno Trowulan

Batu bata kuno Trowulan

Oleh HARRY SUSILO

Italia bangga dengan kemasyhuran reruntuhan Pompeii. Kamboja menyimpan keajaiban Angkor Wat. Indonesia punya Trowulan yang memendam kebesaran Majapahit. Sayangnya, kebesaran Majapahit ini terancam pudar jika satu per satu temuan berharga menghilang demi urusan perut.

Situs Trowulan di Jawa Timur memiliki sejuta kisah dan karya seni bercita rasa tinggi di balik situs peninggalannya. Artefak seperti arca, keramik, dan struktur bata pun bernilai historis unik.

Ironisnya, industri batu bata yang mengepung Kecamatan Trowulan seolah menjadi momok bagi peninggalan arkeologis yang masih terpendam. Artefak bernilai seni tinggi itu terancam lenyap dan dengan cepat berpindah tangan. Read more of this post

Terus Dirusak, Situs Gunung Padang Diperlakukan bak Keset

OLYMPUS DIGITAL CAMERAJAKARTA, KOMPAS.com – Situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mulai rusak karena ulah manusia. Situs peninggalan kebudayaan megalitikum terbesar di Asia Tenggara itu saat ini tidak dikelola dengan baik.

Perilaku pengunjung yang seenaknya, ditambah adanya berbagai kepentingan, membuat struktur bangunan situs rusak parah. Penelitian yang dilakukan Pusat Arkeologi Nasional bekerja sama dengan Balai Arkeologi Bandung menemukan terjadinya kerusakan teknis pada situs megalitikum yang diperkirakan dibangun pada rentang waktu 2.500-1.500 sebelum Masehi.

Arkeolog senior Moendardjito yang menjadi anggota tim ahli penelitian, Kamis (3/1/2012), mengatakan, pengunjung situs Gunung Padang bisa mencapai 16.000 orang per bulan. Pengunjung sebanyak itu menginjak-injak bangunan situs yang dibangun hanya dengan teknologi sederhana. Read more of this post

Situs Kerajaan Lamuri Nyaris Musnah

BANDA ACEH, KOMPAS.com – Situs Kerajaan Lamuri di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, kini tidak terurus dan berserakan. Situs bekas cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam seluas 300 hektar itu kini terancam musnah seiring rencana pembangunan lapangan golf di area tersebut.

Pengamatan di Bukit Lamreh, Rabu (2/1/2012), tak tampak upaya pelestarian dari badan atau dinas terkait. Padahal, dalam setengah tahun terakhir, desakan agar kawasan itu dilestarikan menguat dari sejumlah elemen masyarakat di Aceh seiring rencana pembangunan lapangan golf.

Batu-batu nisan berhias tulisan Arab Jawi tampak berserakan. Ada pula tumpukan batu-batu yang diduga bekas fondasi bangunan kuno kompleks Kerajaan Lamuri, yang sebagian telah tertimbun tanah di areal perbukitan tersebut. Read more of this post

Orang Jawa Kuno Gunakan Meriam untuk Rayakan Pernikahan

Huochong

DEPOK, KOMPAS.com – Meriam lazim digunakan sebagai alat untuk menunjang kemenangan dalam pertempuran. Namun, di masyarakat Jawa Kuno, meriam tidak hanya dipergunakan sebagai alat bertempur. Meriam justru lebih banyak digunakan untuk merayakan pernikahan.

Hal itu diungkapkan oleh Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N Miksic dalam seminar IInternasional Epigrafi dan Sejarah Kuno Indonesia. Seminar itu dilangsungkan oleh Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia bekerja sama dengan Kepustakaan Populer Gramedia, Ecole Francaise d’Extreme Orient (EFEO) dan Yayasan Djojohadikusumo di kampus UI Depok, Rabu (5/12/2012).

“Ketika Zheng He mengunjungi Jawa di tahun 1405 Masehi, orang Jawa menggunakan huochong atau meriam untuk merayakan pernikahan,” terang Miksic. Read more of this post

KobaYogas.COM

Share Drive|Ride|Pride

Iwanbanaran.com

All About Automotif | Autonews | Discussion | Issue | Review | New product

Ilmu Arkeologi

Peradaban, Arkeologi, Budaya, Lingkungan, Persembahan untuk umat manusia.

MAJALAH ARKEOLOGI INDONESIA

DJULIANTO SUSANTIO: PEMERHATI SEPURMU (SEJARAH, PURBAKALA, DAN MUSEUM), PEGIAT KOMUNITAS, PENULIS ARTIKEL, DAN PENGUMPUL PERNAK-PERNIK MASA LALU

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.